Gambar – Kondisi lumpur yang sudah mengering di lapangan merdeka dan didepan kantor Camat yang belum pernah disentuh.
TAPTENG, bicarasumut.com || Sudah hampir dua bulan pasca banjir yang melanda Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Namun, hingga kini penanganan dampaknya belum terlihat maksimal.
Hal itu tidak seperti yang pernah disampaikan oleh Camat Barus Sanggam Panggabean, yang menyebut penanganan bencana Barus telah mencapai 90%.
Padahal, di sejumlah titik, lumpur bekas banjir masih dibiarkan seperti awal pertama kali bencana terjadi. Salah satunya, di lapangan Merdeka Barus, tepat di depan Kantor Camat Barus.
Tampak, lumpur yang sudah mengering menutupi rumput lapangan, membuat lokasi tersebut tidak lagi tampak seperti lapangan. Melainkan hanya seperti sebuah lahan kosong yang tidak bertuan.
Padahal, ada 2 sekolah di sekitar lapangan tersebut, sebuah Kantor KUA serta sebuah Gereja yang bersentuhan langsung dengan lapangan tersebut.
Menurut warga sekitar, lapangan Merdeka Barus belum pernah dibersihkan oleh Camat Barus selaku perpanjangan tangan Pemkab Tapteng dibawah naungan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu.
Ironisnya lagi kata seorang wanita bernama Mawarni Simatupang ini, belakangan Camat Barus Sanggam Panggabean diketahui telah berkantor di Desa Bukit Gabungan Hasang, bukan lagi di Keluraham Padang Masiang.
“Lapangan Merdeka ini belum pernah disentuh sama sekali. Camat malah berkantor di Desa Bukit Gabungan Hasang. Apel pagi saja di sana, bukan di Kantor Camat,” ujar Mawarni Simatupang, Selasa (13/01/26).
Sejak gelombang protes warga Barus mencuat akibat minimnya kehadiran pemerintah pascabanjir, Camat nyaris tak pernah terlihat di wilayah terdampak.
Mawarni juga menyinggung kebijakan Camat Barus yang menonaktifkan Kepala Desa (Kades) dan Lurah baru-baru ini, atas tuduhan tidak tanggap bencana. Kebijakan tersebut menurutnya, telah memicu kemarahan warga.
Karena menurut warga, apa yang dituduhkan kepada Kades dan Lurah tersebut, tidak benar.
“Yang dituduh tidak peduli, itu justru orang-orang yang selama ini membantu warga. Sementara Camat sendiri tidak pernah turun menemui masyarakat,” ketus Mawarni, warga Lorong II Kelurahan Padang Masiang, merupakan salah satu wilayah yang terdampak bencana terparah yang belum pernah sekalipun didatangi Camat.
Dengan kondisi Lapangan Merdeka yang masih berlumpur, akhirnya mematahkan klaim Camat Barus yang menyebut penanganan bencana Barus telah mencapai angka 90%.
Dia juga membantah kalau Camat Barus pernah hadir langsung membersihkan rumah warga usai dilanda Banjir.
“Tidak ada sama sekali. Itu bohong,” ketusnya.
Kesaksian serupa disampaikan warga lainnya, Nurlena Marbun, yang juga menjadi korban banjir. Dia menegaskan bahwa hingga kini tidak ada bantuan resmi serta pendataan dilakukan pemerintah Kecamatan maupun Kelurahan terhadap korban bencana.
“Camat dan lurah tidak pernah datang. Bantuan pangan tidak ada, pendataan juga tidak ada. Lumpur di lapangan dan di depan Kantor Camat masih jelas terlihat,” pungkasnya.
Nurlena menyebut bantuan yang mereka terima justru datang dari luar pemerintah, termasuk bantuan pribadi dan partai politik.
Harapannya, Bupati Tapteng Masinton Pasaribu tidak hanya menerima laporan sepihak dari bawahannya. Melainkan harus terjun langsung melihat kondisi masyarakat saat ini, pasca bencana.
“Pak Bupati sebaiknya turun langsung ke lapangan, lihat sendiri kondisinya. Jangan datang tengah malam. Datang pagi atau siang, supaya warga bisa menyampaikan langsung apa yang kami alami,” ucap Nurlena. (rif)









