SIBOLGA, bicarasumut.com | Pukat Tongkol atau jaring tangkap untuk menangkap ikan Tongkol dan sejenisnya, sangat populer di kalangan nelayan. Tak hanya di Kota Sibolga dan sekitarnya, pukat ini juga telah banyak digunakan oleh nelayan di Kota-kota lain, seperti Jakarta dan Belawan.
Ada yang menarik dari asal mula jaring tangkap yang satu ini. Ternyata, orang pertama yang menciptakan pukat Tongkol ini adalah nelayan Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Awal mula terciptanya jaring ini, karena hasil tangkap pukat rapat atau yang biasa disebut oleh nelayan Sibolga-Tapteng dengan istilah pukat cincin mengalami penurunan jumlah tangkapan di tahun 1993-1994.
Cerita ini diperoleh dari seorang pria bernama Bakhtiar Efendi, orang-orang akrab memanggilnya dengan sebutan Pak Iyun.
Karena usianya yang telah lanjut, Pak Iyun tidak lagi pergi melaut, kini dia hanya aktif bekerja sebagai pembuat/merehab jaring atau tukang bubul, dalam istilah masyarakat Sibolga-Tapteng.
Setelah pukat cincin tidak lagi menjanjikan, Pak Iyun yang kala itu masih bertubuh kekar kemudian memiliki ide untuk membuat pukat Tongkol, jaring yang belum pernah digunakan oleh nelayan manapun.
Awalnya, idenya ini ditolak oleh para pengusaha kapal perikanan yang ada di Kota Sibolga dan sekitarnya. Meski demikian, pria kelahiran Kabupaten Batubara, Provinsi Sumut ini tidak kenal lelah menawarkan hasil gagasannya.
Hingga akhirnya, jaring ciptaannya diterima oleh toke kapal tempat dia bekerja, namanya H. Nurdin Harahap, pemilik tangkahan NDH di Kota Sibolga.
“Waktu itu kami berpikir apa kira-kira usaha yang baik, melihat situasi harga ikan waktu itu. Jadi saya memberikan ide, bagaimana kalau kita buat alat tangkap jaring pukat tongkol. Ikan tongkol itukan harganya agak lumayan dibandingkan ikan ikan lainya seperti dencis atau ikan balato aceh. Waktu itu harganya 300 rupiah per kilo tahun 93-94. Jadi waktu itu ikannya sisik ataupun ikan tongkol harganya sampai 2.000-2.400 rupiah per kilo,” kata Pak Iyun memulai cerita masa lalunya.
Sambil meneguk kopinya, pria 77 tahun ini meneruskan kisahnya sebagai orang pertama yang membuat jaring Tongkol. Setelah mendengarkan penjelasannya mengenai cara menggunakan pukat Tongkol, NDH dan Pak Iyun kemudian pergi berangkat ke Kota Medan untuk membeli bahan membuat pukat Tongkol pertama.
Setelah jaring selesai dirakit, dia kemudian dipercaya untuk memilih nahkoda atau tekong dalam istilah nelayan Sibolga. Diapun memilih H. Saiful yang menjadi tekong kapal pukat Tongkol pertama.
Saiful yang kini sudah almarhum, merupakan tekong disalah satu kapal milik NDH. Menurut Pak Iyun, hanya Saiful yang sanggup untuk mengoperasikan jaring jenis baru ini.
Pertama kali beroperasi diantar tahun 1993-1994, hasilnya sangat menjanjikan. Bayangkan, tidak butuh waktu berhari-hari, berangkat sore, besok pagi sudah pulang membawa hasil ikan sejenis Tongkol dan Tuna yang melimpah.
Keberhasilan jaring ini kemudian merebak dari mulut ke mulut para nelayan dan pengusaha kapal. Hingga akhirnya, satu persatu pengusaha mengganti alat tangkapnya, dari pukat rapat menjadi pukat Tongkol.
“Jadi perbedaan jaring pukat cincin ini dengan pukat tongkol adalah diameter lobang jaringannya. Kalau pukat rapat/cincin diameter lobang jaringnya rapat-rapat dia, 1 inci, kalau pukat tongkol jarang-jarang lobang nya sampe 4 inci. Jangkauan jaringnya lebih dalam, lebih panjang. Kalau pukat rapat/cincin jaringnya karet, bahan jaringnya beda. Kalau pukat tongkol lebih banyak menggunakan nilon, bukan benang, kalau bentuknya sama. Kalau pukat rapat/cincin spesialis nya menangkap ikan-ikan halus/kecil seperti balato aceh atau dencis,” ungkap Pak Iyun.
Seiring waktu berjalan, jumlah kapal yang mengunakan pukat ciptaan Pak Iyun, semakin banyak. Bahkan saat ini, cara menangkap ikannya sudah bervariasi. Kalau sebelumnya, tidak menggunakan tuasan, kini tuasan sudah digunakan sebagai tempat berkumpulnya ikan sebelum kemudian ditarik jaring.
“Jadi, setelah ikan itu singgah disitu barulah pukat tongkol melabuhnya, menjaring nya atau pun menangkap nya. Dengan membuang jaring disekitar tuasan itu dengan jarak yang luas, luas tertentu memutari tuasan itu. Selain itu cara tangkap nya dengan cara mencari ikan yang timbul di permukaan air laut dengan cara menyusuri/menyisiri lautan. Jadi kalau ada ikan timbul, langsung lah dibuang jaring,” terang Pak Iyun.
Kabar tentang keberhasilan pukat Tongkol ini kemudian merebak hingga ke luar Kota Sibolga.

Gambar – Bakhtiar Efendi (Pak Iyun) saat menceritakan kisahnya disalah satu kedai Kopi
Sambil kembali menyeruput kopinya, ayah 10 anak ini melanjutkan ceritanya. Di tahun 2003, pertama kali pukat Tongkol beroperasi di daerah Muara Angke Jakarta. Bermula dari seorang toke kapal bernama Hasan, pemilik kapal Luki Hepi dan Bintang Laut yang memintanya untuk membuatkannya jaring Tongkol ciptaannya.
Saat itu kata pria kelahiran 1947 ini, banyak nelayan Sibolga yang takut melaut, karena banyaknya nelayan yang ditangkap oleh oknum yang mengatasnamakan mereka GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Tak tanggung-tanggung, kapal yang tertangkap banyak yang dibakar karena tidak membayar tebusan.
Karena kondisi itu, Pak Iyun kemudian menyarankan Hasan agar memindahkan kapalnya ke Jakarta. Selain lebih aman, jarak tangkapnya pun lebih dekat dan luas. Selain itu, jangkauannya lebih dekat ke perairan Bengkulu dan daerah lainnya, yang memiliki ikan yang melimpah.
Pak Iyun kemudian memilih Bukhari sebagai nahkoda, yang membawa kapal milik Hasan berangkat ke Jakarta.
“Pertama kali saya merantau masih anak satu. Itulah ceritanya pertama kali pukat Tongkol ada di Jakarta,” kata Pak Iyun sambil tersenyum kecil mengenang masa-masa mudanya itu.
Dia juga ingat, pernah didatangi oleh Mahasiswa dari Universitas Perikanan Bung Hatta dari Sumatera Barat, yang melakukan riset tentang pembuatan jaring pukat Tongkolnya. Mereka ingin belajar bagaimana cara menjahit dan mengoperasikan jaring miliknya tersebut.
Karena jiwa sosialnya yang tinggi, Pak Iyun kala itu tidak berfikir yang macam-macam. Niatnya hanya ingin berbagi informasi dan pengetahuan yang dimilikinya. Diapun akhirnya mengajari para mahasiswa tersebut.
Kepiawaian Pak Iyun merakit jaring Tongkol kemudian turun ke anak-anaknya. Bahkan, orderan pukat Tongkol dari para pengusaha kapal di Jakarta pun telah ditangani oleh anaknya.
Hingga akhirnya, banyak pembuat jaring yang belajar membuat jaring ciptaannya, yang hingga kini masih digunakan oleh pengusaha kapal di berbagai daerah, seperti Bali dan Pekalongan.
Kisah ini diceritakan langsung oleh Bakhtiar alias Pak Iyun disalah satu kedai kopi ternama di Kota Sibolga. Tidak ada bukti akurat terkait pernyataan Pak Iyun yang mengaku sebagai pencipta jaring Tongkol. Namun, cerita ini diamini oleh beberapa orang nelayan Sibolga, yang mengaku mengenal dekat Pak Iyun.
Menurut sumber, alasannya tidak mematenkan nama jaring ciptaannya tersebut, karena tidak menginginkan apapun dari buah karyanya tersebut. Dia hanya ingin, nelayan sejahtera dengan ide kreatifnya. (ril/red)









