Gambar – Camat Barus (kiri) dan masyarakat Kecamatan Barus (kanan) saat mendatangi Kantor Kecamatan Barus.
TAPTENG, bicarasumut.com || Gelombang protes mengguncang Kantor Camat Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara (Sumut), pada Selasa (30/12/25). Ratusan warga dari Kelurahan dan Desa di Kecamatan Barus mendatangi kantor Camat untuk meluapkan amarah atas pernyataan Camat Barus, Sanggam Panggabean klaim pemulihan pascabencana 90 persen, yang dinilai memanipulasi fakta di wilayah mereka.
Warga menuding Camat telah menebar kebohongan publik melalui media massa. Dalam pernyataannya, Camat mengklaim bahwa proses pemulihan pascabanjir serta penyaluran bantuan di Kecamatan Barus telah mencapai 90 persen. Fakta di lapangan, menurut warga, berbanding terbalik.
“90 persen katanya sudah pulih, itu tidak betul. Dia hanya bicara yang enak-enak saja agar terlihat baik di mata Pak Bupati,” ujar Muhiddin saat memberikan keterangan kepada awak media di lokasi.
Selain Muhiddin, Oppu, salah seorang warga yang juga merupakan petugas dari Kelurahan Padang Masiang, turut menyampaikan kekecewaannya terhadap situasi dilapangan sesuai fakta yang ia ketahui. Oppu membeberkan, bersumber dari minimnya perhatian pemerintah daerah pascabanjir yang merendam wilayah tersebut sejak November lalu dan sudah berlalu sekitar 35 hari, Oppu mengaku hanya menerima satu kali bantuan berupa empat muk beras.
Oppu juga mencium aroma diskriminasi dalam pendistribusian logistik.
“Kalau ada bantuan, mungkin dipilih-pilih bagi dia. Mungkin yang dekat saja yang dikasih. Kami petugas di Kelurahan Padang Masiang tidak pernah tersentuh,” ungkap Oppu dengan nada kecewa.
Ramlan Manullang, warga yang melakukan siaran langsung melalui akun Facebook pribadinya menyatakan, bahwa klaim Camat adalah bentuk “adu domba” terhadap masyarakat. Ia menyebut kondisi infrastruktur dan permukiman warga masih hancur, namun Camat justru memberikan laporan palsu ke media.
“Camat Barus pembohong. Jangan terlihat baik di mata pemimpin tapi tidak baik di mata masyarakat. Nyatanya nol, tidak ada perbaikan,” tegas Ramlan di tengah kerumunan massa yang mengepung Kantor Camat. Namun, saat aksi berlangsung, sang Camat dilaporkan tidak berada di tempat.
Penderitaan warga kian terlihat dari kerusakan fisik bangunan. Beberapa rumah dilaporkan mengalami dinding jebol hingga pondasi yang roboh. Di Desa Pasar Tarandam, genangan air bahkan masih merendam permukiman hingga menyerupai kolam.
Ironisnya, bantuan dari Pemerintah Pusat dan Provinsi tidak ada, warga mengaku bantuan yang selama ini menyambung hidup mereka justru datang dari inisiatif mantan Bupati Tapteng periode 2017-2022, Bakhtiar Ahmad Sibarani dan anggota DPRD Sumut, Rahmansyah Sibarani serta Ketua DPRD Tapteng, Ahmad Rivai Sibarani yang keduanya adalah abang kandung dari Mantan Bupati tersebut, bukan dari pos anggaran resmi pemerintah kecamatan maupun kabupaten.
“Bantuan dapur umum itu dari Pak Rivai Sibarani, Rahmansyah Sibarani, dan Bakhtiar Ahmad Sibarani. Dari Camat dan bantuan dari Pemerintah Pusat dan Provinsi tidak ada, Nihil. Padahal Barus ini masih bagian dari Tapanuli Tengah, bukan di luar daerah,” ketus Mis dan Annisa juga dibenarkan warga lainnya yang rumahnya mengalami kerusakan berat di Desa Pasar Tarandam.
Kecewa karena merasa diabaikan dan dibohongi, warga Barus kini membawa tuntutan tunggal kepada Pemerintah Kabupaten Tapteng, yakni pencopotan jabatan Camat Barus.
“Harapan kami, Camat harus diganti dari Kecamatan Barus agar masyarakat aman. Itulah permintaan kami,” tegas warga. (rif)









