Gambar – Wali Kota Sibolga dan National Director Habitat for Humanity Indonesia saat membagikan Shelter Kit dan peralatan pembersihan kepada warga Kelurahan Aek Parombunan.
SIBOLGA, bicarasumut.com || Habitat for Humanity Indonesia menyalurkan bantuan Shelter Kit dan peralatan pembersihan puing bagi warga terdampak banjir dan longsor di Sumatera Utara (Sumut). Penyaluran dilakukan pada Rabu (21/01/2026), sebagai bagian dari fase pemulihan pascabencana yang terjadi pada akhir 2025.
Sebanyak 200 paket Shelter Kit dan Rubble Removal disalurkan kepada keluarga terdampak di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), dan sekitarnya. Bantuan ini merupakan tahap awal dari target 1.000 paket yang direncanakan Habitat Indonesia, dengan dukungan pendanaan dari para donatur.
Penyaluran bantuan tersebut disertai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Habitat for Humanity Indonesia dengan Pemerintah Kota Sibolga dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah. MoU ditandatangani oleh Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazry Penarik dan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu.
Kerja sama itu ditujukan untuk menyinergikan data penerima manfaat serta memastikan proses pemulihan rumah warga berjalan selaras dengan rencana tata ruang dan kebijakan mitigasi bencana daerah. Melalui kesepakatan tersebut, Habitat Indonesia memperoleh akses lebih luas dalam koordinasi bantuan teknis dan logistik di lapangan.
Distribusi bantuan dipimpin langsung oleh Handoko Ngadiman, National Director Habitat for Humanity Indonesia, bersama Arwin Soelaksono, Program Director Habitat for Humanity Indonesia. Keduanya memastikan bantuan diterima langsung oleh keluarga yang membutuhkan untuk memulai perbaikan hunian secara mandiri.
Paket bantuan yang dibagikan mencakup perlengkapan perbaikan rumah dan pembersihan sisa material banjir. Setiap keluarga menerima terpal, karung, peralatan pertukangan seperti palu, gergaji, linggis, sekop, dan cangkul, serta perlengkapan keselamatan kerja, termasuk helm proyek, sarung tangan, sepatu pelindung, dan kacamata keselamatan. Habitat juga menyediakan Community Shelter Kit, berupa peralatan bersama seperti kereta sorong, untuk mempercepat pembersihan lingkungan.
Handoko Ngadiman mengatakan distribusi Shelter Kit ini merupakan langkah awal dari komitmen jangka panjang Habitat Indonesia di Sumatera Utara.
“Pemulihan ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi selaras dengan mitigasi bencana daerah. Kami tidak hanya membangun kembali rumah, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu menjaga hunian yang lebih aman bagi generasi mendatang,” kata Handoko.
Habitat Indonesia merancang program pemulihan dua tahun pascabencana. Pada tahun pertama, program difokuskan pada perbaikan rumah dan retrofitting, sementara pada tahun kedua diarahkan pada pembangunan hunian baru.
Program tersebut mencakup perbaikan dan penguatan struktur 500 rumah rusak ringan dan sedang, pembangunan kembali rumah bagi warga dengan kerusakan berat, serta pelatihan keterampilan pembangunan kembali yang menekankan peran perempuan.
Menurut Habitat Indonesia, keterlibatan aktif perempuan dinilai krusial dalam proses pemulihan. Perempuan dianggap memiliki ketelitian dan ketahanan emosional yang berperan penting dalam memastikan rumah yang dibangun kembali tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga aman dan inklusif bagi seluruh anggota keluarga. (ril/red)









