SIBOLGA, bicarasumut.com || Panitia seleksi Paskibraka Kota Sibolga Tahun 2026 buka suara menanggapi tudingan adanya kecurangan dalam proses seleksi. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Kantor (Kakan) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Sibolga, Syafruddin Atmaja kepada wartawan di ruang kerjanya, pada Sabtu (16/5/2026).
Atmaja menegaskan, isu terkait adanya intimidasi maupun manipulasi dalam proses seleksi calon Paskibraka Kota Sibolga Tahun 2026 yang beredar di media sosial merupakan informasi tidak benar atau hoax.
Ia juga menegaskan, hingga saat ini Pemerintah Kota (Pemko) Sibolga melalui Kesbangpol belum mengumumkan hasil seleksi calon Paskibraka Tahun 2026. Karena itu, poster yang beredar di media sosial yang menampilkan nilai hasil seleksi disebut tidak benar.
“Pengumuman sampai hari ini belum ada. Jadi poster yang beredar itu hoax,” tegasnya.
Menurut Atmaja, seluruh tahapan seleksi dilaksanakan sesuai petunjuk teknis (juknis) dan prosedur yang berlaku, mulai dari seleksi administrasi, TWK, TIU, kesehatan, parade, PBB, kesamaptaan hingga wawancara.
Sebelum proses rekrutmen berlangsung pada 24–26 Februari 2026, Kesbangpol Sibolga juga telah melakukan sosialisasi ke seluruh SMA, SMK dan sederajat di Kota Sibolga.
Ia menjelaskan, dalam proses penjaringan ditemukan banyak peserta yang tidak memenuhi syarat tinggi badan minimal sesuai juknis nasional, yakni putra minimal 170 cm dan putri minimal 165 cm. Untuk memenuhi kuota, Pemko Sibolga telah mengajukan diskresi terkait syarat tinggi badan dan usia kepada BPIP dan telah mendapat persetujuan.
Adapun tahapan seleksi dilaksanakan mulai 2 Maret hingga 13 April 2026, meliputi seleksi administrasi, TWK, TIU, kesehatan, parade, PBB, kesamaptaan dan kepribadian.
“Penentuan kelulusan berdasarkan akumulasi nilai peserta dan dilakukan dengan sistem perankingan sesuai kebutuhan Paskibraka,” jelasnya.
Ia juga membantah tudingan adanya peserta yang dipaksakan lolos meski tidak memenuhi syarat tinggi badan.
“Nilai tinggi itu bukan hanya satu orang. Banyak peserta mendapat nilai 95 bahkan 100 pada TWK dan TIU. Jadi informasi yang diviralkan tidak sesuai fakta,” ungkapnya.
Atmaja turut membantah adanya intervensi dari Wali Kota Sibolga dalam proses seleksi.
“Wali Kota justru meminta agar dipilih putra-putri terbaik Kota Sibolga berdasarkan prestasi,” pungkasnya.
Sementara itu, disisi lain hal senada disampaikan perwakilan tim pelatih dari unsur TNI-Polri, Bripka Andika menegaskan bahwa seluruh proses seleksi dilakukan secara transparan dan profesional tanpa intervensi pihak manapun.
“Yang menentukan mereka lolos adalah kemampuan dan nilai mereka sendiri sesuai juknis nasional,” ucapnya.
Ia menjelaskan, penilaian tidak hanya berdasarkan TWK dan TIU, tetapi juga mencakup kesamaptaan, kesehatan, PBB dan wawancara yang kemudian diakumulasikan untuk menentukan peringkat akhir peserta.
Bripka Andika juga menyebut hingga kini belum ada peserta yang dinyatakan lolos maupun gugur karena pengumuman resmi masih menunggu mekanisme dari BPIP pusat melalui provinsi hingga ke daerah.
“Apapun hasilnya nanti, itu murni berdasarkan nilai yang diperoleh peserta. Tidak ada penambahan maupun pengurangan nilai,” tandasnya.
“Dan untuk sampai saat ini, belum ada yang menyampaikan keberatan terkait itu kepada Kesbangpol dan kita juga menunggu apa keberatannya dia,” tutupnya.








