TAPTENG, bicarasumut.com || Empat bulan setelah banjir melanda Kabupaten Tapanuli Tengah Tapteng), sejumlah warga masih bertahan di Hunian Sementara (Huntara) mandiri dengan kondisi serba terbatas. Mereka mengaku belum mendapat Hunian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng.
Salah satunya Torgi boru Sitompul, warga Kecamatan Tukka. Ia mengatakan hunian yang ditempatinya dibangun secara swadaya dengan bahan seadanya.
“Ini kami bangun sendiri pakai uang kami sendiri. Bantuan ini dari orang-orang baik, bukan dari pemerintah,” kata Torgi.
Ia menunjukkan isi huniannya yang sempit, berukuran sekitar 1×2 meter, yang ditempati bersama satu anggota keluarga lainnya. Peralatan rumah tangga seperti kompor gas, dispenser, hingga perlengkapan lain disebut berasal dari bantuan masyarakat, termasuk dari luar daerah seperti Nusa Tenggara Timur.
Menurut Torgi, kondisi hunian tersebut jauh dari kata layak. Atapnya terbuat dari seng bekas yang diambil dari sisa rumah warga yang hanyut saat banjir.
“Kalau hujan, bocor. Kadang air juga masuk ke sini. Dibilang nyaman, tidak,” ujarnya.
Ia mengaku sudah tinggal di lokasi tersebut selama empat bulan, setelah diminta keluar dari tenda pengungsian dengan alasan akan dibangun huntara oleh Pemkab Tapteng.
Namun hingga kini, pembangunan yang dijanjikan belum terealisasi.
“Kami disuruh keluar karena katanya mau dibangun huntara. Tapi sampai sekarang belum ada,” ungkapnya.
Selain persoalan tempat tinggal, warga juga menghadapi kesulitan ekonomi. Torgi mengatakan tidak memiliki pekerjaan tetap sejak bencana terjadi.
“Penghasilan tidak ada. Mau kerja apa, sawah sudah berlumpur, kebun juga rusak,” ucapnya.
Kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan, masih sangat terbatas. Ia menyebut keluarganya hanya mengandalkan beras yang dibeli sendiri, tanpa lauk yang memadai.
Torgi berharap adanya perhatian dari Pemkab Tapteng, terutama terkait penyediaan hunian yang layak dan perbaikan infrastruktur seperti tanggul sungai untuk mencegah banjir susulan.
Ia juga meminta bantuan alat seperti gerobak dorong (angkong) untuk membersihkan rumah warga yang tertimbun lumpur hingga setinggi leher.
“Kalau tanggul belum diperbaiki, kami takut banjir lagi. Rumah kami masih tertimbun lumpur,” bebernya.
Selain itu, ia berharap adanya peluang pekerjaan bagi warga terdampak agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kami butuh kerja supaya bisa makan. Kalau hanya beras saja, mau beli yang lain dari mana,” tandasnya.
Hingga kini, warga di lokasi tersebut masih bertahan dengan kondisi seadanya sambil menunggu bantuan dan kepastian dari pemerintah. (ril/red)








