SIBOLGA, bicarasumut.com – Tangis pecah, amarah meledak! Puluhan ibu-ibu pekerja dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jalan Mawar, Kelurahan Sibolga Hilir, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga, tak kuasa lagi menahan penderitaan, Sabtu (17/10/2026).
Sebanyak 47 karyawan dapur MBG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sibolga Hilir yang selama ini menjadi ujung tombak program unggulan Presiden Prabowo Subianto, nekat mengepung dan menyegel dapur tempat mereka menggantungkan hidup.
Penyebabnya sungguh memilukan. Selama 11 hari mereka memeras keringat, mengolah ribuan porsi makanan bergizi untuk anak sekolah, namun sepeser pun gaji tak mereka terima dari manajemen Yayasan Arsha Imani Mandiri.
“Keluarkan hak kami, kami sudah diperbudak di dapur MBG ini!” teriak histeris salah seorang emak-emak, dengan mata berkaca-kaca di depan gerbang dapur yang kini digembok.
Ironis, di tengah harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, hak dasar mereka untuk sekadar menyambung hidup justru digantung tanpa rasa kemanusiaan.
Drama penyegelan ini ternyata bukan sekadar soal gaji. Di baliknya, terkuak borok perselisihan internal yang diduga penuh tipu muslihat antara Yayasan Arsha Imani Mandiri yang dikomandoi Mukhlis Benny Putra dengan Mitra Pemilik Fasilitas, Nurdin Z dan Sopian.
Informasi yang berhasil dihimpun, biang kerok lumpuhnya dapur MBG ini adalah macetnya hak kemitraan sebesar Rp 2.000 per ompreng yang wajib disetor Yayasan kepada mitra.
Hitung-hitungannya bikin geleng kepala, dari produksi 3.000 ompreng per hari, mitra seharusnya mengantongi Rp 6.000.000 per hari. Jika dikali 24 hari kerja dalam sebulan, angkanya tembus Rp 144.000.000 per bulan.
Dan yang lebih mencengangkan, tunggakan itu sudah berlangsung selama 1 tahun! Artinya, kerugian yang ditanggung mitra mencapai Rp 1.728.000.000 atau Rp 1,7 Miliar.
Alih-alih membayar gaji 47 pekerjanya dan melunasi hak mitra, Yayasan Arsha Imani Mandiri justru diduga memainkan skenario licik.
Pemilik Fasilitas, Nurdin Z, blak-blakan membongkar dugaan tersebut. Ia menyebut dana Rp 1,7 miliar milik mitra yang sengaja ditahan itu, diduga dipakai Yayasan untuk membeli rumah yang selama ini dijadikan Dapur MBG yang awalnya hanya berstatus kontrak tahunan sejak September 2025 untuk memenuhi syarat perizinan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Ini diduga sebagai jurus jitu untuk mendepak Nurdin Z dan Sopian dari kepemilikan aset.
“Ada dugaan kuat uang hak kami senilai Rp 1,7 miliar selama setahun ini sengaja mereka tahan dan pakai untuk membeli Dapur MBG itu secara sepihak, demi menyingkirkan kami selaku mitra resmi,” tegas Nurdin Z.
Kini, akibat dugaan kerakusan dan konflik elite tersebut, yang menjadi korban adalah rakyat kecil. 47 ibu-ibu pekerja terpaksa menelan pil pahit tanpa gaji, sementara ribuan porsi MBG untuk anak-anak terancam terhenti karena dapur disegel.
Hingga berita ini ditayangkan, Ketua Yayasan Arsha Imani Mandiri, Mukhlis Benny Putra, masih bungkam seribu bahasa dan belum memberikan klarifikasi apapun terkait nasib 47 karyawannya dan tudingan penggelapan dana mitra Rp 1,7 miliar tersebut. (rel/asp)








