TAPTENG, bicarasumut.com || Lima bulan setelah banjir dan longsor melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara, pada 25 November 2025, layanan air bersih dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Mual Nauli belum juga pulih. Distribusi air ke rumah-rumah warga masih terhenti di hampir seluruh wilayah.
Di Kecamatan Pandan, Tukka, Sibuluan, hingga Sarudik, warga mengeluhkan air tak kunjung mengalir. Kondisi ini memicu keresahan. Masyarakat mempertanyakan tanggung jawab Perumda sebagai penyedia layanan air bersih, sekaligus menuntut kepastian kapan distribusi kembali normal.
Upaya konfirmasi kepada Direktur Utama (Dirut) Perumda Mual Nauli, Bernardo Lumban Gaol, belum membuahkan penjelasan utuh. Saat dihubungi wartawan lewat pesan WhatsApp pada Rabu (08/04/26), ia tidak memberikan jawaban terkait penyebab terhentinya distribusi air maupun langkah pemulihan yang tengah dilakukan.
Dalam konfirmasi terpisah, wartawan juga menanyakan kebenaran isu mengenai keterlambatan pembayaran gaji pegawai sejak Februari dan Maret. Namun, Bernardo justru menyampaikan kondisi yang lebih serius. Ia menyebut pegawai Perumda telah tiga bulan tidak menerima gaji.
“Tiga bulan belum gajian, Pak,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Pernyataan itu membuka lapisan persoalan lain di tubuh perusahaan. Di satu sisi, layanan publik tak berjalan. Di sisi lain, kondisi internal perusahaan diduga tengah bermasalah dan tidak sehat.
Ketiadaan air bersih dalam waktu panjang bukan sekadar gangguan layanan, tetapi menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dalam situasi pascabencana, akses air bersih semestinya menjadi prioritas pemulihan, bukan justru terhenti tanpa kejelasan.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Perumda Mual Nauli mengenai penyebab utama terganggunya distribusi air, target normalisasi layanan, maupun langkah konkret yang ditempuh untuk mengatasi krisis tersebut. (rif)









